Jika aku boleh meminta, aku tidak ingin lahir sebagai transgender seperti ini. apa yg terjadi? Dan bagaimana bisa terjadi? Saya pun tidak mengerti. Semua mengalir begitu saja. Membohongi diri sendiri sungguh tak nyaman, maka beginilah aku yg sekarang. Melawan kodrat sang kuasa. Siapa yang tak pilu melihat seorang ibu merintih sakit karena ulahku ini. untuk kedua kalinya harus menahan sakit setelah melahirkanku, namun kali ini batinlah yang menjadi taruhannya. Belum selesai! Masih ada orang lain yang memperolok-olokku, bukan aku namun lagi-lagi orang tuaku termasuk ibu, tak sedikit jumlahnya. Aku pun kewalahan menahan sesak ini. Aku orang yang terasingkan. Semua mengecam tindakanku, termasuk agama. Mungkin akulah sang penghuni neraka. Tapi harus bagaimana? Aku berada dalam persimpangan hati dan kodrat. Menjalani kodrat sangat tidak nyaman untukku. Haruskah aku hidup dengan rasa itu? tak sebentar, tapi selama umur ku? Sepanjang apapun aku memberi alibi, engkau tak mengerti. Sudah cukuplah kepenatan ini, sudah cukuplah penderitaan ini. aku mungkin akan hidup dalam keasingan selama hidupku. Aku sangat berharap adanya keadilan. Setidaknya persamaan hak untukku, namun ku tau inilah konsekuensi dari penyimpangan. Aku takkan dapat itu.
Saya mencoba memposisikan diri saya sebagai kaum transgender, setelah membaca Koran harian jogja tentang hari gey sedunia. Sangat kontradisksi menurut saya. Bayangan hidup menjadi seorang pemberontak kodrat ternyata sangat melelahkan. Menurut saya sudah cukuplah tekanan itu untuk mereka. Tak sepantasnya kita mengkotak-kotakkan pergaulan. Bukankah distriminasi itu salah? Saya bukan kaum mereka, yang saya tau hanya sedikit. Itu pun saya tau dari pikiran2 super imajinatif otak kanan saya. Menunggu ajal tampaknya sangat melelahkan untuk mereka. Setelah hidup tak wajar, mereka pun harus menerima konsekuensi di hari pembalasan nanti. Lebih baik tak dilahirkan! Namun siapa yang tau dibalik cobaan itu? waulahualam.
Sikap2 naluri kita yang geli dengan mereka memang wajar. Naluriah sekali. Namun lihatlah focus di balik apa yang kita lihat. Hargai keberadaan mereka. Cukup seperti itu.
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar