Minggu, 28 Februari 2010

entah labil atau serakah

entah labil atau serakah.

Filsafat.
suka keambiguan, menerka, meski jatohnya jadi sok tau. Berharap sy bs bljr open minded.

Geografi
the master of sains, tanah, udara, air, avataaaar!!! Keren lah

Fikom
Setidaknya kecerewetan sy ini bisa ada gunanya.

Peternakan
Menikmati hidup dengan kesederhanaan. Just my dream!

Managemen bisnis
Mandiri, pekerja keras, pemberani, and ‘ saya bos-nya!’

Managemen hutan
Cinta hutan, air, dan udara, the world I love.

Architecture
Nggak ada kimia, seninya teknologi…apa lagi? Tak ada alasan buat sy menghindar. Impian,obsesi, and I love it so much

Klo kuliah kaya sekolahan yg semuanya dipelajarin sy pengen bljr semua.
*mengenang ujian mandiri+SNMPTN*

Jumat, 19 Februari 2010

Ada Maksud

Hallo?
………..
Iya hallo?
……………………
Kalo mau iseng jangan kesini donk!
ehm……..
Nah lho! Ada suara
…………..
Heh! Kalo iseng, jangan ke w!
…………………
Kelamaan! *klik*

kalo dunia tanpa aturan

Klo dunia ini tanpa aturan
Hm.. dunia tanpa aturan ya?? Menyenangkan sekali tampaknya u/ bbrp org yg menyukai adanya kebebasan (bc:susah di atur). What??? Susah di atur? Termasuk sy donk?
Klo dunia ini tanpa aturan, sy bakal pake piayama + sendal jepit ke kampus. Temen sy bilang, dy bakal nyuri listrik buat modal usaha, dan kt temen ancur sy bilang, dy bakal kencing di mana aja “biar simple,men!”.
Wah, hidup semaunya! Simple dan hak asasi mencapai klimaks *eh, salah tuh! Bahkan hak asasi bisa sj menuju titik nol, disepelekan begitu sj*..horas! merdekalah kita!
Berarti gw bs bebas selingkuh donk? Begitu juga cowo sy, “waaa .. nggak mauuu!” Klo hidup nggak ada aturan, pacar sy bs aja selingkuh sama ibu sy, sy menikah dengan ayah sy sendiri, atau pak guru dengan bebas mencambuk muridnya kalo lg kesal, atau lagi para pelajar bisa sebebas2nya lari-larian (bc:tawuran), dan entah ibu mana yg hari ini mendapatkan anaknya buntung mendadak.
Dunia tanpa aturan?? Bukan dunia namanya… !
Apa arti aturan u/ anda?

prambanan ekspress

Saya melihatnya pada malam itu,
Alnitak,alnilam, dan mintaka ikut menyoroti
Wahai kaki itu begitu indah menyeret kaki-kaki yg lain
Membawa para kaum berpindah koordinat

Membawa para pelayan mengabdi
Membawakan senyum rindu
Mengiringi suatu misi
Atau sekedar menaungi orang yg kelelahan

Asap itu terlihat gagah
Kau sulut apa, aku tak mengerti
Teriakanmu membuat orang menyingkir
Karena mereka tau tugas yg kau emban

Sungguh terpesona aku dibuatmu pada malam itu
Penghalang depan ingin ku patahkan
Namun ku harus memberi jalan pada sang penguasa rel
Wahai sang kereta, sungguh ku terpesona.

bekas

Paku yg kau tancap
Akan meninggalkan bekas meski kau cabut itu
Kertas yg kau kusutkan
Akan meninggalkan bekas meski kau strika kembali

Takkan kembali sebuah logam yg kau lempar ke dalam ganasnya ombak
Takkan ada lagi kehausan setelah kau minum air itu
Sadarkah kita akan apa yg telah kita ucapkan? Apakah kita focus dengan feed back yg akan kita terima? Berhati-hatilah bung dengan gaung itu. karena gaung itu bs saja membawa anda pada suatu permasalahan baru. Atau mungkin dia akan menjatuhkan harga diri anda di mata saya.

jurang

Aku berdiri di depan jurang
Harus ku ada di bawah detik itu juga
Namun hatiku tak ingin menghadap taring bebatuan
Detik mengalun, merogokku untuk 1 keputusan

Hai bung! Cepatlah!
1 detik yg lalu itulah janjimu!
Hai bung! Loncat segera!
Cemen sekali kau!

Aku mulai mundur
Langkah demi langkah
Aku berlari
Hingga ku berani untuk meloncat

kepuasan batin, karenaku bisa bersikap tegas, mengambil keputusan yg tepat, karenaku yakin hati ini adalah hukum di bawah alam sadar. Hatiku tau apa yg terbaik. Hatiku tau dimana aku berdiri dan harus melangkah dalam keseimbangan yg tepat. Terimakasih sang hati, semakin hari aku semakin percaya padamu. Dan semakin hari pula aku mengerti dari arti suatu konsekuensi yg membawa kita pada pelajaran yg tak bisa diulang.

sedikit arang u/ gunung es

Menghujat diri yg terus acuh
Arang, terus menyulut
Dingin itu bagai gunung es!
Tak cukuplah arang yg ku tabur untuk melihat sang air

Janji-janji-janji
Takkan lagi ku dorong gerobak bara itu!
Menyulutnya hingga meliuk
Khayalan atau hanya bualan

Janji-janji-janji
Takkan lagi ku pakai mantel itu!
Karena ku tak peduli akan dingin
Atau sang air

Arangku semakin menyulut dalam sukma
Batin, cukuplah gerah
Karenaku pasrah
Dialah!

buang waktu

Dua bocah bersenyawa
Janji bagai basi
Komitmen hanya lelucon cemen
Young and stupid!
Tak ada batas
Tak ada akhir
Hanya awal dari harapan kosong
Bodoh sekali jika salah satu dari mereka menganggap itu akhir
Bodoh sekali jika memberi segala
Bodoh sekali jika mereka menangis
Bodoh sekali jika mereka menunggu
Itu hanya anomali belaka,nak!
Tak ada tanggung jawab
Tak ada pengukuhan
Berlumpur api kekal
Buang-buang waktu saja kau!

logis

Berikan aku 1 alasan yg logis!
Mengapa kau melempar rajutan halus yg kau sulam sendiri..
Waktu yg kau sisihkan untuk itu..
Dan tujuan dari tindakanmu..

Betapa manis aku lihat kau merajutnya
Tulusnya hati terpancar dalam senyummu
Kelihayanmu dalam melilit benang begitu mempesona
Bak professional

Tak amatir sepertiku
Aku,aku,dan aku termangu
Ajari aku
Namun, aku takkan membuang waktu untukku buang

Rabu, 10 Februari 2010

itu

Sudah berulang kali hati saya mencegah itu untuk dibahas kembali.
Saraf-saraf menegang hingga ngilu tak ter hindari.
Mataku lelah membaca penenang yang tak kunjung menenangkan.
Otakku berputar, bertanya, mencari, menganalogikan semuanya.
Tangan, mulut, dan telinga telah ku tutup berulang-ulang dari itu yg terus merajam.
Ingatan hendakku remove, namun sayang untuk dibuang.
Lagi-lagi tangan menyingkirkan semua, namun masih ku tata.
Rapi, tak tersentuh debu.
Kakiku terus berlari, namun kau terus menyusul.
Tapi, tak sedikit pun tampak langkah yang kau umbar dahulu.
Ucapku, janjiku pada diri sendiri tak wujud menjadi realita
Aku tau bagaimana mengakhiri semua.
Tapi aku tak tau bagaimana memulainya.
Aku hanya bisa menunggu sang waktu menjawab.
Menjawab pengabdianku atas janji terhadap hati.

cacing

Meliuk bak cacing kepanasan
Inginku meliuk namun lurus
Cepat, hingga lalu dalam binar
Menuju gelap dalam damai
Ku ingin seperti itu

Matahari lagi-lagi terbit
Ketika hendak ku hirup aura kesegaran
Sebentar sekali!
Pelit!
Sudahlah! Ketimbang legam menjadi ciri

Aaah, tak ada sorotan u/ku
Kalau saja ada makhluk yg mengerti,
Membawa ku pd habitat yg lbh adil
Mungkin inilah peranku
Sang sutradara pasti tau

liburan di bdg

Kamu tau?
Sekarang bulan dan bumi ada pada jarak terdekat
Kamu tau?
Minggu depan mereka akan jauh kembali
Kamu tau?
Bulan ingin selalu dekat dengan bumi
Kamu tau?
Bulan ingin manusia lihat indah dirinya
Kamu tau?
Bumi tak ingin itu
Kamu tau?
Bumi tak ingin mereka saling bertabrakan
Kamu tau?
Bulan menangis
Kamu tau?
Bulan harus mengalah
Kamu tau?
Mereka harus jauh
Kamu tau?
Semua untuk kita
Kamu tau?
Kita?

no komen

Sy sama seperti para remaja biasa. Sy pernah melanggar hijab layaknya orang yg dimabuk cinta. Cinta? Cinta taimu!
Sy menangis sesegukan menanti sang hati. Tak kunjung datang, meski segala kepercayaan sy agungkan. Sy tersadar kalau semua telah berakhir. Sy merasa seperti sampah. Dibuang, ditinggal, yah seperti itu. Sy ingin marah, namun sy redam marah itu dengan ketenangan hati. Sy ingin menangis dihadapanmu, agar kamu tau siapa yg telah kamu lukai tadi. Namun sy tutup rasa itu dengan keikhlasan karena itu menenangkan.
Sy diam. Salah jika sy terlihat tak bicara, namun lebih tepatnya sy bicara dengan tindakan sy. Taukah hati, sy biarkan semua karena sy menjaga hati.
Satu surat untuk hati:
Hati, sy ingin kamu tau. Sy sudah memilihmu sebagai calonku. Hati, sy biarkan kamu memilih karena sy ingin kau pilih. Hati, kini dogma membuatku lbh kuat. Hati, sy ingin menjaga diri untuk calonku kelak. Tolong tunggu dan ubah dirimu, karena sy akan melakukan yg sm. Jika qadar tau, kita bisa bersatu. Tolong jaga hati untuk waktu.

obrola si perangko

Udah syok aja lah waktu ngeliat perbincangan si perangko di fb. Udah mikir macem2 aja lah. Kalo mau maen-maen, atulah serius itu mah udah liar. Bukannya dy ngecopas notes tentang iffah bwt koleksi notes dia ya? Nggak malu gitu?
“ih ari ayu, itu kan bukan urusan kamu!”
“emang sih, tapi gimana ya. Atulah aku tu care gitu, sm dia. Nggak pengen si perangko macem-macem. Takut di bilang ngekang, tp masa weh nggak ngingetin da kita teh temen.”
“udah diem aja, toh dia nggak mcm-mcm jg kan?”
“tapi pencitraan neng! Lisan itu hrs di jaga kalo kita ngomongnya kasar ato jorok kan yg kena gibasnya yg ngomongnya juga kan?”

pujian

Bukannya sy nggak suka dipuji , tapi sy sungkan kalo dipuji. Aiih! Bukan maksud merendah untuk meroket. Tp sy bnr2 takut kalo jatohnya sy sombong, atau pujian itu nggak sebenar-benarnya tepat di alamatkan kepada sy. Sapa yg tau coba? Yg asalnya biasa aja, setelah dipuji, hati kita bisa aja dibalikin gitu aja kaya anak-anak yg lagi gambreng (o/ sang maha pembolak-balik). *pemborosan kata ‘aja’!* biarin! Notes-notes sy ini. Sampe mana? Iya gituu. Hati susah diatur emang. Jadi merasa lebih. Padahal tak ada yg paling lebih selain Dia.
Pujian. Cukup hargai sy, tapi tolong jangan berlebihan memuji sy. Hati sy masih sangat amatir, bawaannya gesit, sampe adrenalin muncrat. Takut-takut-takut dibilang sombong, padahal tak sedikit pun ada niat sombong. Sikap sy pun tak sedikit pun sy umbar untuk sombong. Mav seribu mav buat segala ucapan dan tindak tanduk sy, lagi-lagi harap maklum hati sy masih amatir.

080210 bukan u ditiru

Pagi jam 10an sy ke stasiun. Mau liat kereta. Terus pulang. Ya nggak lah! Sy mau beli tiket pulang ke solo. Eh sy ralat, bukan ‘pulang’ tapi ‘pergi’. Di jalan lancar-lancar aja, si Kawasaki jg nggak rewel minta minum pertamax. Bahagialah hingga di tempat tujuan.
Pulangnya dengan rute biasa sy masih focus dengan jalan, alias nggak nyasar. Sampe ahirnya di perempatan pasir koja, sy mulai gembling. Boleh lurus nggak sih? Oh, nggak boleh! Ada rambu-rambunya. Saya pun belok kiri ke arah kelapa, tapi saya tau jalan lain yg tujuannya sama di ahir jalan tadi. Saya pun belok. Bentar, ada rambunya nggak nih? Oh nggak ada! Berarti halal. Saya pun tak ragu untuk belok. Tapi di ujung jalan udah ada polisi nangkring. Sial! Firasat jelek ni.
Bener aja, sy kena tilang.
“maaf, de!”
“iya, kenapa?” jawab sy biasa
“ade udah ngelanggar rambu, kalo jalan di sini ditutup sampe jam 12. Kalo mau lewat sini, motornya harus didorong. Matiin aja motornya sayang bensin!” Polisi masih basa-basi di tengah jalan.
“rambu mana? tadi saya masuk lewat terusan pajagalan, dan disana nggak da rambu. Mana saya tau nggak boleh lewat sini!”
“oo, yg itu plangnya emang copot kemaren baru mau di pasang nanti. Tapi ade kan udah ngelanggar rambu” si polisi ngomongnya kalem, bikin saya pengen nendang.
“jadi, plang copot salah saya?” *w kerjain ah tuh polisi! Sumpah w kesel*
“saya bukan orang asli sini pak (bohong), bpk boleh liat kartu mahasiswa saya. Ini STNK sm SIM saya. Bisa diliat taun belinya. (baru beli soalnya) tapi saya bikin SIM di sini kemaren. Orang kaya saya mana tau budaya lalu lintas?! Yg saya tau rambu-rambu lalu lintas”
saya pengen tau reaksi polisi itu, kalo misalnya saya bukan orang asli sini saya bakal diapain? Apa cukup dapet wejangan yg bijak sebagai toleransi atau tetep harus ’ditilang’? enak aja, nggak Cuma itu doank! Sy kasih STNK motor saya yang di solo. Jelas bukan STNK motor yg lg sy pake. Coba, apa dia bakal mempersalahkan STNK sy juga?
What??? Dia nggak sadar kalo STNK sy ngawur. Hellooo, kalo sy bawa motor curian, apa saya akan ditindak seharga orang ditilang?
Dia masih bersih kukuh kalo saya salah. Saya diemin aja, beberapa saat.
“pa, mana SIM saya?
dia diem aja
“ko diem? Jadi saya bener-bener salah?”
Dia masih diem
“klo ditilang, sidangnya kapan?” sumpah saya bener-bener kesel. Mending saya bayar untuk Negara dari pada buat rokok si bapak.( Eee, motor sy malah dijadiin maenan sama polisi yg laen! “gagah uy” katanya gitu)
“hari jum’at biasanya”
Aiiih jum’at?? “hah, jum’at? Lama amat? Saya mau pulang ke solo besok!” mati! Kalo pulang-pulang ketauan ditilang, pasti di mata si bapak sy pasti salah. Jelas, ditilang itu bentuk kesalahan. Entah berapa presentase factor kesalahan sy, pasti sy dianggap salah soalnya udah ‘ngelanggar’. Intinya babeh sangat taat aturan. Dia pasti belain polisi. Hayyah!!! Haruskah saya menghancurkan idealisme saya?
Saya liat muka polisi itu sambil nyengir! Iiiih, najong banget! Senyam-senyum seakan-akan dia menang. Dan berharap saya sujud di bawahnya buat nggak di tilang. Tapiii… iiiiiiih
“nih!” akhirnya saya kasih 20.000. astgfrllh… sy udh kasih uang haram buat keluarganya. Tapi mau gimana lagi, besok sy harus pulang. Kalo sy pulang hari sabtu sih, sy datengin deh tu sidang! *Aaah, udah yu, lu sama aja* sy harap tidak untuk dicontoh. Benar-benar untuk tidak dicontoh.
Disepanjang jalan saya kesel ajalah, sama kejadian tadi. Saya rasa tingkat stress saya mencapai rating 78 dr 100. Itu tandanya hipokamus saya mengerut *ini yg sy baca dari mata kuliah anak psikologi UNISBA kemaren*. aiiih si ayu deg-degan uy! Panic ni yeee.. biar nggak makin stress, saya mencoba menenangkan diri.
“ah yu, udahlaaah. Lu nggak perlu ironis dengan apa yg baru lu saksiin. Mungkin itu bentuk penegakkan hukum yg seupil aja. Itu Cuma, seupil orang aja. Masih banyak, para penegak hukum yang lbh adil. Peneggakan itu juga nggak luput dari partisipasi lu juga. Kalo lu bejat kaya tadi, sama aja lu mendukung pratik seperti itu. udahlahh yu, anggep tadi pengalaman aja. Lain kali lu bisa lakuin tu lbh baik lagi *lain kali? Nggak! W nggak bakal kena tilang lg*. lain kali kalo kejadian lagi, lu bisa ikut sidang. Bukan ‘sidang’. Be calm oke? Sekarang kita relaksasi di tempat biasa aja, gimanaaa?”
saya pun berbelok ketempat relaksasi.