Minggu, 14 Maret 2010

jenuh tapi hrs tetap optimis bakal sembuh

Baru aja tadi selese nonton kick andy.
Untuk kali ini, kick andy membahas tentang ‘Huda’,seorang wanita yang divonis gagal ginjal. Bagaimana dukungan keluarga merawat huda dengan rasa cinta, bagaimana sikap keluarga ketika tau kalau huda harus melakukan pencangkokan ginjal dengan cara menerima salah satu ginjal dari pihak keluarga, dan bagaimana sikap huda dalam menghadapi ajal di usia muda. Entah kenapa aku merasa sesak. Menahan tangis karena aku merasa senasib.
Aku takut. Aku serius takut. 9 bulan yang lalu aku divonis mengidap penyakit ini. Aku nggak tau ini sakit macam apa atau seperti apa. Tapi bapak searching nyari info sebanyak-banyaknya tentang penyakit ini. wejangan panjang lebar dari ibu, disiplin obat tiap harinya. Bikin aku takut. Aku lengah, bisa saja penyakit ini semakin parah. Keluargaku memang punya riwayat penyakit paru. Ibu takut itu menurun padaku.
9 bulan yang lalu, penyakitku cukup parah. Awalnya aku kira sakit dari ulu hati ini, Cuma karena aku kurang minum. Sampai akhirnya aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Bahkan tidur pun aku sakit. Bukan sesak. Tapi sakit. Rasanya seperti ditusuk, ditusuk dibagian paru-paru. Tidur nyamping ke sebelah kiri sakit sekali, ke kanan juga sakit meski tak seberapa. Tidur terlentang seperti biasa, sedikit sesak. Alhasil saya tidur dengan posisi sedikit duduk. Waktu itu menjelang snmptn. Aku berdo’a. agar aku sehat. Agar ibu membolehkan aku merantau demi cita-citaku. Alhamdulillah, kondisi aku pun semakin membaik. Setelah 6 bulan menjalani terapi. Ternyata paru-paruku belum sehat seluruhnya, maka dari itu ditambah 3 bulan lagi. Dan sekarang seharusnya aku harus cek-up lagi. Tapi kondisiku yang jauh dari dokter di bandung sana, bikin jadwal kontrolku sedikit ngaret.
Taukah diary, aku takut kalau aku masih sakit. Aku nggak displin minum obat di sini. Aku jenuh dengan obat-obat itu. aku nggak mau sakit. Aku lari dari kenyataan. Aku bandel. Dan sekarang aku takut, gimana kalo aku divonis masih sakit? Kalo kenyataannya seperti itu aku harus terapi lagi 6 bulan ke depan. Aku nggak mau. Aku mual minum obat yg bejubel itu. aku ingin sehat ya Allah. Aku jenuh denga semua obat ini. kadang aku merasa senut-senut di bagian paruku. Tapi setiap ibu bilang ‘teteh ngerasa masih sakit nggak parunya?’. Aku selalu jawab ‘nggak kok, Alhamdulillah udah nggak sakit kaya waktu itu’.
Aku cape minum obat ya Allah, aku ingin sehat. Aku selalu berfikir aku kuat dan nggak pernah sepintas pun aku takut dengan sakit ini. tapi ketika aku diingatkan untuk control tiap bulannya. Entah kenapa aku selalu tegang. Tolong selalu dekat denganku ya rabb. Agar aku tidak merasa sendiri di sini.

Lama-lama aku terikat dengan laboratorium
Membuatku khawatir setiap ia keluar
Aku takut semua itu menggorogotiku
Karenaku belum siap akan munkar dan nakir
Sungguhku takut
Tak kuasa membungkusnya agar terlihat rapi
Aku takut mereka
Aku takut izrail
Mereka bebenyit izrail
Sedangkan aku tereksekusi

Meredamnya dalam kalbu
Menjadi kaldu untuk kalbu
Aku ingin bagikan sup ini
Karena inilah ampas yg dapat aku hadiahkan
Ya
untuk hidup yg menggairahkan

Ayu sehat.
Ayu senang.
Ayu senang banyak teman.
Ayu tak apa-apa
Ayu senang tertawa
Ayu senang menggila
SEMANGAT!!!!!!

Tidak ada komentar: