Senin, 26 Oktober 2009

obrolan yg menjenuhkan

Fenomena yg sedang in dalam pembicaraan teman-teman wanita saya di kampus adalah soal LE LA KI..
Hmm.. kok rasanya saya mulai bosen ya? Awalnya saya juga tertarik, tp kok lama2 saya merasa itu bukan pembicaraan yg menyenangkan ya?
Kenapa pembahasan itu tidak turun pamor? Apa karena jumlah pria yg mulai langka sehingga para wanita bersiap untuk bersaing? Apa manfaat dari pembahasan soal kaum mars itu? Toh, dgn kita cerita pun apa yg kita ingin kan tidak akan menjadi kenyataan.
Apa nggak aneh ya, klo perempuan yang mengambil tindakan terlebih dahulu? Hmm.. menurut saya itu aneh. Masa iya, kita harus berusaha sekeras itu hingga akhirnya memenangkan persaingan itu? Apa tidak sebaiknya, menunggu dipilih saja? Bukannya menjadi orang yg dipilih itu menyenangkan? Merasa dipertahankan.
Sebagai life observer, saya mengambil kesimpulan dari beberapa kasus (saya nggak tau ini subjektif atau objektif. Ini penalaran induktif atau deduktif) kalau perempuan itu ibarat 0-100, sedangkan para lelaki 100-0. Hal itu dikarenakan jumlah pilihan yg variatif dalam perempuan.
Saya jelaskan,
Dari beberapa curhatan teman-teman saya, saya mengamati kalau mereka memulai hubungan mereka dari presentase rasa yang sedikit (untuk perempuan) itu ibarat nol. Sedangkan para lelaki begitu menggebu-gebu, berusaha mendapatkan sang pujaan sehingga berada dalam presentase 100. Tetapi setelah beberapa lama fase mereka jalani, ada perubahan kontras yang tanpa disadari berubah. Perempuan merasa dibutuhi, merasa disayangi, diperhatikan dsb sehingga presentase menambah hingga 100. Sedangkan lelaki mulai jenuh dengan pola rutinitas yang monoton atau melirik perempuan yang tampaknya jauh lebih baik sehingga presentase turun mendekati nol.
Hmm… kemana skor yg menurun itu? kebanyakan pihak perempuanlah yg tersakiti, ditambah pola pikir mereka yang banyak menggunakan perasaan. Huuu, tragis! Saya hanya bisa bilang, ‘tenaaang, jodoh nggakkan kemana!’
Ada lagi,
Saya juga memperhatikan kalau perempuan yang mengambil langkah duluan biasanya gampang putus. Mungkin, (lagi2 saya hanya melihat dr satu sudut) para kaum mars itu merasa kurang mendapat tantangan sehingga bosan.
Jadi apa manfaat dr pembicaraan itu? apa hanya sebagai guyonan yang hanya membuang2 waktu saja? Kenapa nggak kita flash back cerita2 kita yg bermanfaat atau yang jauh lebih menghibur? Ooh, mungkin itu relative.
Ayolah! Msh panjang… raih obsesi dulu deh! Mav klo menggurui. Apa nggak sebaiknya kita merecycle diri agar disambut dengan pangeran yang jauh lebih baik juga?

Tidak ada komentar: