tak tau aku, sungguhkah dulu?
Selama ini aku diam, karena aku ingin kau berfikir. Selama ini tak ku ungkit lagi rasa dan pengorbanan yang belum kau tau, karena aku tak ingin kau tau. Aku tak butuh kerekayasaan rasa, meski itu sangat membahagiakan pastinya.
Aku butuh kata-kata dan dukunganmu seperti dulu. Karena aku suka diksi-diksi itu. aku butuh keberadaanmu untuk menyentakku agar aku terbangun dan kuat. Aku butuh sekedar bahu untuk membisu dan menceritakannya dalam kalbuku sendiri. Hanya symbol hidup kau di sisiku tapi merindangnya kau, sungguhku perlu. Aku perlu itu. entah rasa apa yang membuatku menggali itu kembali. Entah kata-kata apa yang membuatku membahasnya dalam hatiku.
Tak satu patah kata aku umbar kembali, tak tampak sisi mata yang aku toleh untukmu. Aku tak ingin lihat kau. Karena itu hanya membuatku ingin terus dekat. Tau kah kau, aku masih membuka hatiku? Karena aku belum menutupnya. Taukahkau, hatiku tertutup? Hanya untuk sisi lain mata itu. Aku tak ingin maju menghampirimu, karena tak ada jaminan kau seperti dulu.
Maaf, begitu liarnya aku sekarang. Mengumbar rasa yang selama ini aku redam tidakku rajam. Berceloteh akan rasa dan harga hati yang lama aku jaga. Aku ingin kau tau, kalau rasa ini salah. Aku terlalu butuh padamu hingga tuhan pun cemburu. Aku tak ingin lakukan itu lagi. Aku percaya. Pasangan rusukku ada, tak tau siapa itu. aku harus menjaga aku juga hatiku. Meski kali ini kaulah yang masih ku tunggu. Jika nantinya bukan kau yang kembali padaku, mungkin itulah rusukku, rusuk yang terbaik bagiku. Semoga dirimu pun mendapatkan yang terbaik di sana. Dan aku berharap itu. jika tuhan berkehendak kau adalah rusukku, datanglah padaku! Karenaku telah menjaganya hingga kini, hingga akhirnya tak sedang cerminku sendiri takkan sudi ku berbagi.
1707(ini)
Minggu, 11 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar